Postingan

Mu(t)heNote: Kambing Hitam

“Jangan jadikan apa yang kau ikuti hari ini sebagai kambing hitam atas tak selesainya suatu tugasmu di hari esok” Saya kembali lagi #tumben -,- Sejak saya berganti status menjadi ‘Mahasiswa’ entag kenapa rasaya tak ada hal yang semenarik waktu SMA dulu untuk di tuliskan. Dan kini saya kembali. Ada apa gerangan? Tentunya ada hal berkesan untuk hari ini. Ada kalimat berkesan pula yang saya dapat dari seorang kakak di kos yang baru kompre kemarin.. cie-cie J Kalimat sederhana itu melekat di kepala saya. Sesibuk apa pun kita hari ini. Mungkin pulang magrib, atau pulang malam karena suatu hal, tentunya yang bermanfaat. Intensitas pulang magrib saya pun semakin bertambah dari hari ke hari. Kalau dulunya saya seperti robot yang hidup monoton dengan kuis-laporan-praktikum-jurnal-piket labor ,dan segala hal yang menyangkut ilmu kimia itu terkadang membuat saya jenuh dan ingin mencari variasi hidup yang lain. Dan kini saya temukan variasi hidup baru. Sebentar lagi saya akan dipac...

Cuplikan (efek nonton drama korea)

“Apakah kau membayangkan menjadi pemeran utama lagi?” ujar pria itu sambil mencondongkan tubuhya ke arah layar laptop yang sedang memutar drama korea. “Kau? ” gadis itu terkejut saat menoleh mendapati wajah pria itu tepat disebelahnya. “Aish! Selalu saja kau membuyarkan lamunanku” gadis itu setengah berang. “Setiap jam pelajaran berakhir kau selalu saja disini. Tidakkah kau sedikit iba dengan cacing diperut mu? ” pria itu tak mengabaikan kekesalan gadis itu padanya. Lekas menarik tangan sang gadis secara paksa. “Cacing di perutmu perlu makan. Ikut denganku!” *** “berseleralah sedikit saat makan” “Tan” gadis itu menghela napas. “Tak usah lanjutkan perkataanmu. Makan saja.” *** “Apakah kau selau disini setiap hari? Selalu mencari jaringan intrernet gratis untuk menonton?” “Apa ini lahanmu? Hingga aku harus meminta izinmu setiap berada disini? “Kau galak juga ternyata” “Enyahlah! Kau mengganguku” *** “Dengan menonton dan membayangkan bahwa akulah to...

Mu(t)heNote: Jika Semua Berkata Baik

Namanya Pak Budi Sudirman. Megganyuh becak sepeda tuanya setiap hari. Mencari anak-anak kos daerah sekitar yang memerlukan jasanya. Memindahkan barang mereka ke kos yang baru. Terus mengayun sepedanya hinggga jarak kilometer. Bergabung diantara banyaknya kendaraan bermesin. Klakson bertubi-tubi selalu beliau hadapi tatkala sepedanya yang lelet menghalangi jalan kendaraan modern itu. “Minggir!” ujar mereka. Namanya Pak Tomo. Sama halnya dengn pak Budi beliau mencari nafkah dengan mengandalkan sepeda bututnya. Menyusuri gang demi gang komplek itu mencari orang yang membutuhkan jasanya. Menebang pohon. “Pohonnya udah tinggi Bu, nggak mau ditebang?” “Tidak Perlu! Biar saya tebang sendiri!” Namanya Banbang. Bekerja di PO.Mobil Travel. Sudah tak terhitung berapa kali ponselnya berdering. Penumpang yang memesan tiket, Nama penumpang yang tidak sesuai, Penumpang yang ingin membayar tiket,   Membatalkan perginya dan banyak hal lain yang harus diselesaikannya. “Brengsek!” ujarn...

Jika

Jika saja semua orang berkata dengan baik. Pasti semua akan menyenangkan. Orang tua berkata baik dengan anaknya. Kakak berkata baik dengan adiknya Adik berkata baik dengan kakaknya Senior berkata baik dengan juniornya. Atasan berkata baik dengan bawahannya Majikan berkata baik dengan pembantunya Semua berkata baik. Pasti dunia akan terasa indah. Cukup dengan kata saja...

Mu(t)heNote: Ku Akhiri Hari ini

Hidup itu terkadang tak sesuai dengan apa yang kita harapkan dan impikan. Kerja lalu membayangkan gaji yang lumayan. Layaknya diriku yang mengajar privat. Saat telah satu bulan mengajar . Gaji belum juga diterima, setelah diterima ternyata gji yang kau dapatkan tak sesuai dengan perkiranmu. ‘Tidak balik modal’ begitu istilahnya. Padahal kau bermimpi dengan gjimu, lebih tepatnya uang hasil jeripayahmu bisa mewujudkan mimpi dan harapanmu. Untuk membeli sebuah benda yang kau suka, mungkin?                 Lalu kau sedikit bersedih, semua yang telah kau rencanakan tak bisa terwujud lantaran dana yang kau miliki tak mencukupi. Tersenyum walau hati gundah. Pengalaman memang berharga. Sanggat berhaga. Berharap setelah ini ada panggilan kerja baru untukmu mengisi tabungan khusus. Tabungan khusus yang sengaja kau buat untuk biaya ke luar megerimu. Suatu-Saat-Nanti. Yh, suatu sat yang entah kapan? Aku pun tak tahu...

Mu(t)heNote: Untuk Malam Ini

Malam ini mungkin tak akan bercerita banyak. atau mungkin terkesan sedikit serius. hehe. Malam ini apa yang mengganjal di hatiku telah kuutarakan padanya. Sahabat... Selain itu, bicara tentang pekerjaan dan menjari kerja. Tidak muluk bawasannya akupun membutuhkan uang. semua orang butuh uang. ku baru sadar ternyata mencari uang itu mudah jika kau mau berusaha. Salh satunya menulis. bnyak sekli peluang menulis. lomba menulis dengan hadiah uang yang tak sedikit. bisahkah? Salam tulis, Mu(t)heSai

Mu(t)heNote: Untukmu Pulanglah

oleh Mutiara Kurniati ( Catatan ) pada 28 Januari 2013 pukul 19:26 "Semenjak dia pergi amak jarang buat makanan" ujar ibu temanku itu. "Oh" ujarku singkat "Untuk apa amak buat makanan kalau dianya nggak ada, dia juga nggak bisa makannya, mending di beli aja. Emh, Dulu kalian masih sering main kesini. Sekarang sejak semua kuliah semuanya sepi" sambung beliau. Beliau menarik napas sejenak. Lalu kembali berucap."Dia itu anak yang rajin sekolah, hujan deraspun dia tetap pergi sekolah, katanya dia sedang ujian mungkin dalam minggu ini tidak akan pulang. Sering dia pulang sabtu sore dan pergi kembali di hari minggunya. Emh, hanya semalam saja" beliau mengakhiri kalimatnya. Kutahu beliau sebenarnya tengah bersedih. Orang tua mana sih yang tidak sedih jika harus tinggal berdua saja di rumah. Pastinya kesepiankan? Dan beginilah kerinduan seorang ibu. Beliau yang kukenal rajin membuat makanan, kini tak lagi. Beliau membuat makanan semata...