Postingan

We are the B ost Dream High 2

Singer: Jin Woon 2AM, Kang Sora, Kim Ji Soo, Jr. ROMANIZATION I am a boy just a boy sumanheun boi junge geujeo han boi mwonga teukbyeolhan ge eopgo mueotdo naeseulge eomneun geureon saram I am a girl just a girl jinaganeun geol bwado moreuneun geol jeonhyeo yeppeujido anko nunnatgo pyeongbeomhagi geujieomneun saram urineun B B Bgeup insaeng Ageubi doego sipeun urineun bibi bijeongsangdeul jeongsange seogo sipeun urineun B B Bgeup insaeng Ageubi doego sipeun urineun bibi bijeongsangdeul jeongsange seogo sipeun byeolboril eomneun boril sseuldeeomneun sseul ttaeman gajyeotjyo bujireomneun ttambangulman jureukjureuk heulligo itjyo dapdaphan nae mamboda deo dapdaphaehaneun nae juwiui saramdeurui pyojeongboda nakkaji jichyeogajyo urineun B B Bgeup insaeng Ageubi doego sipeun urineun bibi bijeongsangdeul jeongsange seogo sipeun urineun B B Bgeup insaeng Ageubi doego sipeun urineun bibi bijeongsangdeul jeongsange seogo sipeun eonjenga nae ane inneun nae teukby...

Pesawat Kertas Pembawa Kebenaran

Suasana subuh yang begitu mempesona awan-awan keoren-orennan menyambut dibalik jendela. Dari ufuk timur terpercik secercah cahaya kekuning-kuningan yang siap untuk melaksanakan tugasnya hari ini. Sinar itu berlahan membesar dan akhirnya akan menerangi seluruh jagad raya nantinya. Seorang gadis sedang melakukan inspirasi untuk menyegarkan otaknya. Sejuk udara subuh itu merupakan antivirus baginya agar bisa menetralkan isi kepalanya. Kembali ia memandang perumahan disekelilingngya. “ Rumah? ” gumam gadis itu dalam hati. “ inikah rumah? ” ia bertanya sekali lagi kepada hatinya.

Sahabat Terakhir

Alvin tersenyum kearah Sivia. Senyuman yang dapat menyejukkan kegundahan gadis di depannya. Bola cahaya raksasa itu sepertinya telah bersiap-siap untuk kembali kepersembunyiannya. Langit dibuatnya semakin kelam. "Pulang yuk Vi" ucap Alvin sambil menarik tangan Sivia. Ia beranjak. Gadis itu tak membantah sedikitpun. Sepertinya ia telah lelah terbenam dalam kesedihan sejak tadi. Beberapa kali ia menyapu butir-butir pasir yang menempel di rok hijaunya. Setelah memastikan rok itu sudah cukup bersih ia berjalan mendekati Alvin yang berada beberapa langkah di depannya. Mereka berjalan dalam diam. Tak satupun yang ingin memulai pembicaraan. Mereka terhanyut dalam fikiran masing-masing. Hanya deburan ombak dan kicauan segerombol burung yang mencari tempat peristirahatannya yang menjadi backsound perjalanan senja dua sahabat itu.

Kereta Desember

Kereta akan terus melaju. Melaju sampai tujuannya.Tapi tidak untuk kisahku. Sebuah kisah yang berhenti di tengah jalan. Kisah nan terus membayangiku. Membuatku selalu meningkalkan goresan  di hati.Dua sisi yang berbeda.Yang kudapatkan sekarang. Pahit yang ku rasa setelah rasa manis kunikmati. *** Aku duduk disebuah kereta dengan mesin yang menderu-deru memekakkan telinga. Perumahan dari sela-sela kaca seperti sengaja bergerak menjauhiku yang tengah memandanginya. Hembusan angina menyentuh ilalang sehingga membuatnya menarik ke kanan dan ke kiri beriringan sayangnya pemandangan alam itu hanya sebentar dapat kunikmati karena kereta ini terus berlari terbirit-birit. Aku akan pergi menuju SMA Tunas Harapan untuk menghadiri acara reuni yang rutin diadakan lima tahun sekali. Selain acara reuni inti dari acara itu adalah untuk pemilihan ketua Osis terbaik selama lima tahun belakangan ini. Aku telah meninggalan sekolah itu dua tahun yang...

Cuplikan 4 Diary Kian

Hari itu tiba, hari pertama aku resmi menjadi siswi. Aku berangkat ke sekolah bersama Gio dan Finan. Yah, selain bertangga aku, Gio dan Finan pun sudah sangat akrab. Berjalan bersama menuju sekolah bersama teman sungguh sangat menyenangkan. Saat perjalanan kami tinggal beberapa meter saja. Kuliat ada beberapa orang polisi di depan sekolahku. Kulihat ada seorang ibu menangis di sebelah anaknya karena cacian dan ibu yang lain. Aku, Gio dan Finan hanya berpandangan. Tak mengerti apa yang sedang terjadi. Mungkin ada yang terluka parah fikirku. Tapi tak satupun dari orang-orang di sana yang terlihat terluka. Karena banyak siswa-siswi yang keluar dari pekarangan sekolah, ibu gurupun menyuruh kami masuk dan berbaris di lapangan karena sebentar lagi upacara akan dimulai. Kulihat ibu yang menagis di sebelah anaknya tadipun, menyuruh anaknya ke sekolah. Oh, aku baru sadar anak laki-laki itu menggunakan seragam yang sama denganku. Upacara telah selesai. Saatnya aku memasuki kelas baruku. Seng...

Mu(t)heNote: Eh, Ternyata Bisa

Alhamdulilah akhirnya saya nyampe juga dengan selamat. Hufth! Lega. Tadi sekitar jam 10.00 saya berangkat naik bus mau ke wisma uni saya di kota padang. Saya dianterin papa saya nungguin bus. Akhirnya busnya datang juga. Saya pamitan sama papa saya. Dan petualangan sayapun dimulai... Saya duduk di bangku yang kosong pas di belakang pak supir. Yang duduk di sebelah saya Mbak-mbak. Tanpa basa basi saya langsung duduk aja sambil baca bismilah karena ini pengalaman pertama saya pergi sendirian dengan jarak yang lumayan jauh. Beda dengan Syahrini yang punya bulu mata anti badai.

Cuplikan 3 Diary Kian

Awal dan akhir telah kutorehkan di lembar awal dan kedua. Kini kan ku sambung cuplikan-cuplikan itu dengan alur maju yang masih tersimpan di otakku, awal dari semua... Cuplikan 3 Hari itu hari senin, aku bersama ibuku telah berpakaian rapi karena hari itu ibu akan mendaftarkanku ke Sekolah Dasar. Aku dan ibupun berangkat bersama menuju calon sekolahku. Sekolah yang akan aku dan ibu tuju tidak jauh dari rumah. Sehingga kami hanya berjalan kaki ke sana. Di perjalanan ibu terus menggandeng tanganku menyusuri gang kompleks rumahku. Setelah beberapa menit berjalan aku dan ibu telah berada di tepi jalan raya. Langkah ibu terhenti pada garis hitam-putih yang berada ditengah jalan, "Kian, nanti kalau Kian sudah sekolah. Kalau mau nyebrang jalan Kian harus nyebrang di sini ya" kata ibu padaku. "Kian harus lihat ke kiri, kekanan. Kalau mobil sama motornya udah sepi, baru Kian boleh nyebrang, Nah seperti ini" sambung ibu, dan menarik tanganku berjalan diatas garis h...