Postingan

Cuplikan 3 Diary Kian

Awal dan akhir telah kutorehkan di lembar awal dan kedua. Kini kan ku sambung cuplikan-cuplikan itu dengan alur maju yang masih tersimpan di otakku, awal dari semua... Cuplikan 3 Hari itu hari senin, aku bersama ibuku telah berpakaian rapi karena hari itu ibu akan mendaftarkanku ke Sekolah Dasar. Aku dan ibupun berangkat bersama menuju calon sekolahku. Sekolah yang akan aku dan ibu tuju tidak jauh dari rumah. Sehingga kami hanya berjalan kaki ke sana. Di perjalanan ibu terus menggandeng tanganku menyusuri gang kompleks rumahku. Setelah beberapa menit berjalan aku dan ibu telah berada di tepi jalan raya. Langkah ibu terhenti pada garis hitam-putih yang berada ditengah jalan, "Kian, nanti kalau Kian sudah sekolah. Kalau mau nyebrang jalan Kian harus nyebrang di sini ya" kata ibu padaku. "Kian harus lihat ke kiri, kekanan. Kalau mobil sama motornya udah sepi, baru Kian boleh nyebrang, Nah seperti ini" sambung ibu, dan menarik tanganku berjalan diatas garis h...

Cuplikan 2 Diary Kian

Pertanyaan itu terjawab setelah jarak menjadi batas diantara keduanya. kali ini aku termenung, mengutak atik memori lamaku tentang Dani. Sahabat masa kecilku dan kurasa tidak akan terulang untuk masa sekarang. Dulu saat ku duga ia tak mengingatku lagi. Ternyata setelahnya aku tahu ia merasakan hal yang sama. Rindu yang sama. Rindu canda di masa kecil itu. Lalu rinduku kini apakah akan terjawab pula beberapa tahun akan datang? Akupun menorehkan tinta biru di lembar ke dua. Cuplikan 2 Hari itu adalah tepat satu minggu aku meninggalkan kota kelahiranku. Beasiswalah yang membuatku harus angkat kaki dari tanah kelahiranku. Aku terus saja menekan-nekan tombol ponselku hanya sekedar mengecek nomor siapa saja yang tersimpan di kontakku. Hingga tanganku berhenti saat melihat nama Eky yang kini muncul dilayar ponselku. Eky adalah temanku saat di Sekolah Dasar. Dan sejak aku lulus dari sana, Aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Iseng, ku tulis pesan untuknya hanya sekedar menanyakan ...

Cuplikan Awal Diary Kian

Jam di kamarku telah menunjukan pukul 20.00 WIB. Tapi belum satupun ku sentuh buku pelajaranku tuk esok hari. Meski tak ada PR aku seharusnya menyelesaikan minimal 1 soal dari pelajaranku besok. Tapi sampai saat inipun aku belum juga melakukannya. Aku melihat diary biruku. Yah, aku memang menyukai biru. Diary itu telah lama ku beli namun tak sehelaipun dari kertas diary itu ku tulis. Dulu saat aku masih menduduki bangku Sekolah Menengah Pertama, aku sangat rajin menulis diary. Lalu mengapa saat ini berbeda? Aku agaknya teringat perkatan guru SMP ku dulu. Panggil beliau Bu Darma. Dulu saat menerangkan tetang pelajaran Bahasa Indonesia tentang memo lalu entah mengapa kami saat itu malah membahas tentang Buku Harian. Jika ku tak salah ada salah satu temanku yang bertanya tentang persamaan memo dan buku harian. Hingga Bu Darmapun menjelaskan lebih rinci tentang buku harian. Lalu beliau berkata "Biasannya jika seseorang menulis buku harian pasti kita lebih fokus menuliskan tentang ...

Kutunggu Antusiasmu Ine (Belum Selesai)

"Belajar itu mudah! Perhatikan maka kau akan paham!" ujar lelaki bernama Eza ini dalam hati. Ia menyesuaikan ketukan jarinya seirama dengan lagu yang sedang berdendang merdu di kuping kanananya. Duduk di barisan pinggir itu menyenangkan menurutnya. Karena headseed yang ia kenakan di telinga kanannya sedikit tertutupi. Hingga guru tak mengetahui bahwa ia sedang mendengar dentum aluan musik saat ini. Bukankah otak kiri dan otak kanan itu harus seimbang? Itulah prinsip anak kelaki ini. * Seorang gadis terlihat sangat serius memerhatikan guru yang sedang menjelaskan pelajaran. "Fokus! Fokus!" ujarnya dalam hati. Berusaha memfokuskan diri agar bisa menyimpan pelajaran itu di benaknya. "Ck" ia berdecak. "Percuma! Semua itu tak akan bisa ia tangkap" gadis itu putus asa, refles ia melempar pulpennya ke atas meja. * Eza berjalan tergesa-gesa menuju toilet. Langkahnya berhenti saat mendapati seorang siswi yang tengah duduk sendirian di belakang sek...

Mu(t)heNote:Kala Remaja Bermimpi

Remaja tepatnya dimasa putih abu-abu tentulah adalah masa yang tak terlupakan. Dimasa remaja saat inilah aku harus memulai merancang masa depanku beberapa tahun yang akan datang. Tak terasa aku telah berada dipengujung putih abu-abuku. Ternyata aku kini telah menjadi seorang remaja. Kesedihan, kekompakan, Persahabatan, kebersamaan, keakraban, dan hal lainnya telah ku lalui. Diakhir masa putih abu-abuku ini, aku ingin memulai merancangnya. Merancang masa depanku. Merancannya! Meski ada kemungkinan terburuk sekalipun. Dulu, aku amat mendambakan menjadi seorang siswi yang mengenakan seragam putih abu-abu. Sekarang dalam hitungan bulan ia akan kulepaskan. Kulepaskan untuk membuka pintu mimpiku selanjutnya. Sama halnya seperti tiga tahun silam, kini aku mulai mendambakan menjadi seorang mahasiswa. Membayangkan aku yang memakai almamater. Oh, begitu banyak film yang kini tampak pada fikiranku, dan aku sebagai pemeran utamanya. Sungguh senang rasanya bisa bermimpi dan memiliki mimpi....

Pesawat Kertas Pembawa Kebenaran

Suasana subuh yang begitu mempesona awan-awan keoren-orennan menyambut dibalik jendela. Dari ufuk timur terpercik secercah cahaya kekuning-kuningan yang siap untuk melaksanakan tugasnya hari ini. Sinar itu berlahan membesar dan akhirnya akan menerangi seluruh jagad raya nantinya. Seorang gadis sedang melakukan inspirasi untuk menyegarkan otaknya. Sejuk udara subuh itu merupakan antivirus baginya agar bisa menetralkan isi kepalanya. Kembali ia memandang perumahan disekelilingngya. “ Rumah? ” gumam gadis itu dalam hati. “ inikah rumah? ” ia bertanya sekali lagi kepada hatinya. “ pantaskah ini disebut dengan rumah idaman? ” ia bertanya sekali lagi , tapi tidak kepada hatinya melainkan kepada organ tubuhnya yang lain. Bunyi kuali, panic berserta kawan-kawannya terdengar begitu hiruk-pikuk. Bahkan karena ia tinggal dikawasan rumah makan atau restaurant, itu semua melainkan suara perlalatan dapur yang menjadi korban pertikaian antara bibi dan pamannya. Telah 10 tahun ia tinggal ber...

Lebih Indah

“PANAS!” ucapku saat merasakan hawa panas dikamar yang sedang kutempati. Kuputuskan untuk pindah ke kamar belakang yang menurutku lebih sejuk. Kupandangi rintik-rintik hujan berharap gemerciknya bisa mengalihkan perhatianku yang sedang tak karuan ini. Kucoba mengambil salah satu novel yang memang belum pernah kubaca. “tidak menarik!!” gerutuku. Kuhenyakkan tubuhku ke kasur. Entah kenapa perasaanku selalu saja kesal akhir-akhir ini. Kekesalan ini telah hinggap sejak kemarin. Ingin kuberusaha untuk ikhlas tapi entah mengapa setan di sebelahku ini terlalu hebat mempengaruhiku. Sudah kucoba untuk mengalahkannya dengan melakukan aktifitas lain, tapi hasilnya nihil. Kuhiraukan siapa saja yang memangilku sedari tadi. Dan berharap Via maupun Ify tak tiba kerumahku hari ini di saat perasaanku yang sedang tak bersahabat ini. Hujan semakin deras mungkin terasa cukup dingin. Tapi tidak! Bagiku. Semakin deras hujan maka semakin kencang kuputar kipas angin di kamar kakakku yang berputar- putar d...