Postingan

Kutunggu Antusiasmu Ine (Belum Selesai)

"Belajar itu mudah! Perhatikan maka kau akan paham!" ujar lelaki bernama Eza ini dalam hati. Ia menyesuaikan ketukan jarinya seirama dengan lagu yang sedang berdendang merdu di kuping kanananya. Duduk di barisan pinggir itu menyenangkan menurutnya. Karena headseed yang ia kenakan di telinga kanannya sedikit tertutupi. Hingga guru tak mengetahui bahwa ia sedang mendengar dentum aluan musik saat ini. Bukankah otak kiri dan otak kanan itu harus seimbang? Itulah prinsip anak kelaki ini. * Seorang gadis terlihat sangat serius memerhatikan guru yang sedang menjelaskan pelajaran. "Fokus! Fokus!" ujarnya dalam hati. Berusaha memfokuskan diri agar bisa menyimpan pelajaran itu di benaknya. "Ck" ia berdecak. "Percuma! Semua itu tak akan bisa ia tangkap" gadis itu putus asa, refles ia melempar pulpennya ke atas meja. * Eza berjalan tergesa-gesa menuju toilet. Langkahnya berhenti saat mendapati seorang siswi yang tengah duduk sendirian di belakang sek...

Mu(t)heNote:Kala Remaja Bermimpi

Remaja tepatnya dimasa putih abu-abu tentulah adalah masa yang tak terlupakan. Dimasa remaja saat inilah aku harus memulai merancang masa depanku beberapa tahun yang akan datang. Tak terasa aku telah berada dipengujung putih abu-abuku. Ternyata aku kini telah menjadi seorang remaja. Kesedihan, kekompakan, Persahabatan, kebersamaan, keakraban, dan hal lainnya telah ku lalui. Diakhir masa putih abu-abuku ini, aku ingin memulai merancangnya. Merancang masa depanku. Merancannya! Meski ada kemungkinan terburuk sekalipun. Dulu, aku amat mendambakan menjadi seorang siswi yang mengenakan seragam putih abu-abu. Sekarang dalam hitungan bulan ia akan kulepaskan. Kulepaskan untuk membuka pintu mimpiku selanjutnya. Sama halnya seperti tiga tahun silam, kini aku mulai mendambakan menjadi seorang mahasiswa. Membayangkan aku yang memakai almamater. Oh, begitu banyak film yang kini tampak pada fikiranku, dan aku sebagai pemeran utamanya. Sungguh senang rasanya bisa bermimpi dan memiliki mimpi....

Pesawat Kertas Pembawa Kebenaran

Suasana subuh yang begitu mempesona awan-awan keoren-orennan menyambut dibalik jendela. Dari ufuk timur terpercik secercah cahaya kekuning-kuningan yang siap untuk melaksanakan tugasnya hari ini. Sinar itu berlahan membesar dan akhirnya akan menerangi seluruh jagad raya nantinya. Seorang gadis sedang melakukan inspirasi untuk menyegarkan otaknya. Sejuk udara subuh itu merupakan antivirus baginya agar bisa menetralkan isi kepalanya. Kembali ia memandang perumahan disekelilingngya. “ Rumah? ” gumam gadis itu dalam hati. “ inikah rumah? ” ia bertanya sekali lagi kepada hatinya. “ pantaskah ini disebut dengan rumah idaman? ” ia bertanya sekali lagi , tapi tidak kepada hatinya melainkan kepada organ tubuhnya yang lain. Bunyi kuali, panic berserta kawan-kawannya terdengar begitu hiruk-pikuk. Bahkan karena ia tinggal dikawasan rumah makan atau restaurant, itu semua melainkan suara perlalatan dapur yang menjadi korban pertikaian antara bibi dan pamannya. Telah 10 tahun ia tinggal ber...

Lebih Indah

“PANAS!” ucapku saat merasakan hawa panas dikamar yang sedang kutempati. Kuputuskan untuk pindah ke kamar belakang yang menurutku lebih sejuk. Kupandangi rintik-rintik hujan berharap gemerciknya bisa mengalihkan perhatianku yang sedang tak karuan ini. Kucoba mengambil salah satu novel yang memang belum pernah kubaca. “tidak menarik!!” gerutuku. Kuhenyakkan tubuhku ke kasur. Entah kenapa perasaanku selalu saja kesal akhir-akhir ini. Kekesalan ini telah hinggap sejak kemarin. Ingin kuberusaha untuk ikhlas tapi entah mengapa setan di sebelahku ini terlalu hebat mempengaruhiku. Sudah kucoba untuk mengalahkannya dengan melakukan aktifitas lain, tapi hasilnya nihil. Kuhiraukan siapa saja yang memangilku sedari tadi. Dan berharap Via maupun Ify tak tiba kerumahku hari ini di saat perasaanku yang sedang tak bersahabat ini. Hujan semakin deras mungkin terasa cukup dingin. Tapi tidak! Bagiku. Semakin deras hujan maka semakin kencang kuputar kipas angin di kamar kakakku yang berputar- putar d...

Tulisan 1

Mari pandang sekeliling. Zaman sekarang tak asing lagi bagi kita mempunyai handphone. Bahkan anak-anak Sekolah Dasar telah memiliki benda kecil nan canggih ini. Memiliki lebih dari satu handphone itu sudah sangat biasa. Sekarang mari kita melihat kesisi lain. Orang tua, tak bermaksud menyalahkan orang tua. Tapi semua yang didapat anak tentulah pemberian dari orang tua karena rasa sayangnya. Ada seorang ibu yang berkerja keras untuk membelikan anaknya sebuah motor padahal pekerjaan beliau hanyalah penjual gorengan. Mirisnya lagi motor itu hanyalah kebutuhan tersier bagi anak. Hanya sekedar untuk unjuk pamer belaka. Padahal kebutuhan primer masih menanti untuk dituntaskan. Apakah itu rasa sayang? Ada seorang ayah. Beliau merupakan pimpinan sebuah perusahahan. Selalu berkeliling kota. Ramah, tidak sombong dan bersahabat dengan tetangga. Ia memiliki anak yang nantinya diharap bisa menjadi seperti dirinya. Semua kehendaknya diikuti. Disetiap kamar anaknya diisi dengan fasilitas lengka...

Mu(t)heSai: Tanpa Judul

Hari ini aku hanya ingin menulis. Menulis selagiku mampu membuat 1500 tulisan. Tulisan yang nanti bisa membawaku terbang menggapainya. Remaja adalah tema yang cocok bagiku untuk menuangkan isi fikiranku. Remaja adalah masaku saat ini. Saat dimana aku harus mulai menentukan dasar perpijakan ku kelak. Agar dapai meraih masa depan yang cerlang. Aku dan semua tentangku. Berharap akan bisa menjadi seorang yang berharga nantinya. Aku suka bermimpi. Bermimpi bisa berkunjung ke negri jamur. Sebagaimana yang ada di dongeng-dongeng ya kerap ku baca dan ku lihat. Yang ku tahu tulisan bisa membuahkan keberhasilan bagi penciptanya, yang bersunguh-sungguh menekuni dunia itu. Dunia kata yang bisa membuat kita terbang. Tulisan indah yang tercipta ditangan-tangan pemilik kata. Tanggan yang bisa memadupadankannya. Fikiran dan imajinasinya yang kental. Sehingga tercipta karya yang magis. Menulis menjadikanku sebagai "Tuhan", aku bisa membuat apapun yang kusuka. Negri kertas sekalipun. ...

Tak Mau

Ku tak mau... Tak mau akan semua itu... Semu... Tak mau terus begini Netral... Meski aku menimbun lara Hanya untukmu Berusaha mengalah Mengalah agar indah Tak mau... Tak mau aku, kau jadikan gundu... Kau biarkan saat usai bermain Menahan rasa kesal demi semua Semua... Hening yang kau torehkan Membuatku enggan tuk merayumu Segelumitpun kata manis Tidak! Jangan kau harap Aku sabar menanti kau lunak Sabar menunggu! Tapi jika kau terus begitu Aku akan mati Mati dalam hidupmu selamanya.